Yogyakarta, Proliman News – Problem sampah mulai melanda sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Masalahnya bahkan semakin pelik bahkan rumit.
Di Kota Yogyakarta, misalnya, kini mau membuang sampah saja sudah susah. Sementara jika tidak segera terbuang sampah akan bikin masalah di dalam kota.
Sehingga sering terjadi sampah di Kota Yogyakarta menumpuk di berbagai sudut kota, menimbulkan bau tak sedap, sementara tempat tujuan pembuangan akhir sampah sudah bermasalah.
“Maka muncul pembuangan sampah secara liar ke sejumlah tempat di luar Kota Yogyakarta seperti Kulon Progo dan Gunungkidul. Ini menjadi masalah makin rumit,” ujar Kepala Pusat KKN –DPPM Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Raden Edi Fitriyanto, Jumat (29/8/2025).
Sementara jika tidak terbuang, sampah bisa menjadi problem serius bagi warga di Kota Yogyakarta, mulai dari pencemaran lingkungan, dan resiko terkontaminasi berbagai bakteri serta penyakit serius.
Sementara dibuang secara liar, menimbulkan masalah baru yakni ketegangan antar masyarakat hingga masalah hukum. Karena wilayah tempat sampah ini dibuang punya aturan tersendiri soal sampah.
“Setelah mengkaji berbagai aturan sampah dan masalahnya Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menyimpulkan bahwa mengatasi problem sampah tidak bisa hanya berdebat di tingkat aturan tetapi harus dimulai dari kesadaran masyarakatnya,” ujarnya.
Terkait itulah maka UII Yogyakarta tahun ini mengirim sedikitnya 3000 lebih mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik penanggulangan sampah ke seluruh wilayah DIY.
“Melalui KKN tematik sampah ini UII Yogyakarta ingin berbuat untuk pemerintah dan masyarakat. Agar tumbuh kesadaran tentang bahayanya sampah dan mengorganisir mereka dengan konsep sedekah sampah, atau dengan cara lain sesuai kesepakatan,”katanya.
Edi Fitriyanto mengatakan, hal itu dalam forum Sosialisasi Sedekah Sampah Tim KKN UII Angkatan 71 Unit 97 di Pedukuhan Derpoyudan Kalurahan Tirtorahayu, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo.
Ia menyatakan, melalui konsep sedekah sampah atau bank sampah pengendalian sampah akan lebih baik. Ada kesadaran kolektif di tengah masyarakat.
Yakni masyarakat memiliki kesadaran bahwa sampah akan menjadi acaman serius di tahun-tahun yang akan datang. Lalu mereka mulai ada kesadaran memilah sampah, mulai sampah organik, anorganik hingga sampak berbahaya atau yang biasa disebut sebagai B3.
Ia mengatakan, melalui sedekah sampah, masalah sampah bisa dikelola bersama-sama, terorganisir, agar sampah memberi punya nilai ibadah.
“Sampah organik bisa diolah menjadi kompos, atau untuk budidaya magot, sampah anorganik bisa dijual untuk kesejahteraan masyarakat miskin, yatim piyatu, atau dikembalikan kepada masing-masing rumah tangga,” katanya.
Sedang sampah berbahaya lain, seperti jenis sampah beracun, sisa obat atau barang-barang komponen elektronik seperti baterai atau sejenisnya bisa dikoordinasikan dengan ahlinya atau pemerintah.
Yang paling mendasar dalam konsep ini adalah membangun kesadaran masyarakat dan mengajak mereka melakukan pengelolaan sampah secara komunal.
Seperti tidak boleh membuang sampah sembarangan, kurangi sampah plastik atau bahan yang susah terurai lain, serta masyarakat mulai memiliki kebiasaan memilah sampah sebelum diserahkan kepada tim sedekah sampah.
“Harus ada kesadaran bahwa mulai sekarang harus mengurangi sampah plastik. Maka setiap belanja ibu-ibu sebaiknya membawa tas belanjaan sendiri, agar tidak menimbulkan sampah plastik kian menumpuk. Kalau ibu-ibu belanja banyak, pasti plastik kreseknya lebih dari empat buah, kalau ibu-ibu se – kalurahan belanja, berapa banyak sampah plastik,”ujarnya.
Sampah plastik itu butuh waktu lama untuk terurai, ratusan tahun. Maka dengan sedekah sampah semua warga diajak untuk sadar bahwa minum menggunakan sedotan itu akan membuat problem yang menakukan.
“Sedotan yang kita pakai itu jika dirangkai sudah bisa sampai ke bulan lho. Padahal sedotan itu bisa terutai setelah 250 tahun, sampah plastik itu bisa mencapai 450 tahun, ngeri kan ? ” sergahnya.
Maka ia mendorong, masyarakat di Pedukuhan Derpoyudan, Tirtorahayu, Galur, Kulon Progo bersama mahasiswa KKN UII mewujudkan pengelolaan sampah dengan sistem sedekah sampah.
“Semoga ini menjadi jalan ibadah kita, dan masyarakat di Derpoyudan menjadi contoh di wilayah ini pentingnya megelola sampah secara bersama-sama,” katanya.
Hadir dalam forum tersebut Anggota Fraksi PKB DPRD Kulon Progo Reza Fakmi, Penyuluh Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kulon Progo, Muhammad Anwar Fauzi, semua pengurus Sedekah Sampah Pedukuhan Derpoyudan dan sejumlah penggerak lingkungan.
Liputan : Suyono Sugondo



