Kulon Progo, Prolimannews – Anggota DPRD DIY dari Dapil Kulon Progo menggelar reses ketiga tahun anggaran 2026 untuk menjaring aspirasi dari masyarakat untuk penyusunan perubahan APBD DIY Tahun Anggaran 2026.
Reses ketiga diantaranya dilaksanakan di wilayah Kalurahan Bendungan, dan Kalurahan Ngestiharjo Kapanewon Wates pada Senin – Selasa ( 29-30 Juni 2026).
Sebelumnya reses juga sudah dilakukan di wilayah Kalibawang, Girimulyo, dan Pengasih.
Di Kalurahan Bendungan, dan Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Wates, Fajar Gegana, anggota Komisi D DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan didampingi Ketua DPRD Kulon Progo Aris Syarifudin bertemu langsung dengan masyarakat, pamong kalurahan, jaga warga, perwakilan pemuda, petani, dll.
Lurah Bendungan, Mujiyo dalam sambutannya menyampaikan terima kasih karena Kalurahan Bendungan dipilih sebagai lokasi reses sehingga warga bisa menyampaikan uneg-uneg, keluhan dan bermacam usulan program untuk kemajuan wilayah dan peningkatan kesejahteraan warga.
“Terima kasih untuk usulan sebelumnya sudah terealisasi untuk corblok, dan reses disini, silakan warga menyampaikan aspirasinya lagi,” kata Mujiyo Senin (29/6/2026).
Perwakilan warga yang hadir dalam jaring aspirasi mengusulkan sejumlah program mulai dari pembangunan corblok jalan lingkungan, penataan kawasan, peningkatan kualitas drainase, jalan usaha tani hingga jaringan listrik di persawahan.
“Saluran air yang dulu di belakang pasar bendungan lama itu harus dibangun lagi biar lancar aliran air di kawasan sekitar Pasar Bendungan jadi tidak kumuh,” kata Siswanto warga Bendungan.
Wahyu Widayat, warga RT 29 juga mengusulkan normalisasi drainase di sekitaran kawasan pasar Bendungan Wates.
“Drainase di sekitar kawasan Pasar Bendungan, Kalurahan Bendungan, Lapangan Bendungan ini perlu perbaikan. Terus juga dekat SD kalau bosa ditambah taman terbuka hijau,” kata Wahyu.
Dalam kesempatan tersebut juga hadir Ketua DPRD Kulon Progo Aris Syarifudin. Menurut Aris, penataan kawasan Pasar Bendungan hingga Lapangan Bendungan perlu didukung optimalisasi drainase di sisi depan yakni Jalan Toyan – Brosot terutama di ruas Pasar Bendungan hingga simpang Nagung.
“Prioritasnya adalah penataan peningkatan drainase yang berada di sisi depan pasar di ruas jalur toyaan Brosot terutama Toyan Nagung. Perlu pembuatan drainase yang optimal yang lebih lebar sehingga air dari kampung di belakang pasar bisa mengalir dengan lancar. Jima kemudian ada perbaikan di sisi utara di sekitaran belakang Kalurahan Bendungan belakang Pasar Bendungan namun sisi depan tidak dibenahi maka akan tetap kondisi yang sama karena tidak ada pembuangan airnya,” kata Aris.
Ngatijo , warga Klopo 10 juga mengusulkan perlunya jaringan listrik di area persawahan dan juga jalan usaha tani.
“Pelu jaringan listrik di dekat persawahan , agar kemudian bisa menghemat biaya apalagi saat ini warga juga kesulitan untuk mendapatkan BBM untuk pompa air mengairi sawahnya. Kalau dengan energi listrik kan lebih murah, dan kami siap untuk memasang meteran sendiri dengan biaya sendiri,” kata Ngatijo.
Usulan jalan usaha tani juga disampaikan Weko, warga Bemdungan.
Fajar Gegana, Anggota Komisi D DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan menyatakan akan melakukan koordinasi , bersurat resmi baik itu kepada Pemda DIY, BBWSSO dan PLN untuk menanggapi aspirasi dari warga.
“Untuk listrik misalnya akan kami buatkan surat permohonan penambahan togor tiang listrik, agar semakin dekat dan warga siap pasang meteran sendiri. Untuk drainase nanti kita komunikasi koordinasi pemangku kewenangan yang mana untuk ditindaklanjuti,” katanya.
Sementara itu di Ngestiharjo, Sarjo, Purwoko, Nur’i mengusulkan perbaikan saluran air di sejumlah titik karena banyak kerusakan yang menghambat aliran air ke sawah warga.
“Di dekat SD Sumberan itu menyempit jadi mohon perbaikan,” kata Sarjo.
Liputan W maryanti



