Jakarta, Prolimannews — Setelah sempat berada dalam tekanan berat hingga menembus level psikologis Rp18.100 per dolar AS akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, nilai tukar rupiah akhirnya mencatatkan pembalikan arah yang signifikan.
Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), mata uang Garuda ditutup menguat tajam sebesar 128 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.860 per dolar AS, dari penutupan hari sebelumnya di posisi Rp17.988.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut menguat ke angka Rp17.921 per dolar AS.
Meredanya ketegangan global menjadi motor utama penguatan rupiah hari ini. Progres positif mengenai diskusi damai dan rencana kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran berhasil meredam kepanikan pasar.
Kabar ini langsung memicu kejatuhan harga minyak mentah dunia ke bawah level 100 dolar AS per barel seiring kembali dibukanya jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Imbasnya, indeks dolar AS (DXY) melorot ke level 99,829, memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyatakan bahwa kembalinya rupiah ke bawah level Rp18.000 menjadi bukti efektivitas sinergi kebijakan stabilisasi antara bank sentral dan pemerintah. Keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,50 persen terbukti ampuh memulihkan kepercayaan investor global.
Berdasarkan data transaksi terbaru, aliran modal asing (capital inflow) kembali mengalir deras ke instrumen domestik seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), dengan pembukuan bersih mencapai Rp15,11 triliun pada pertengahan pekan, dan bertambah lagi Rp3,91 triliun pada hari berikutnya.
Senada dengan optimisme tersebut, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelonggaran risiko geopolitik ini menjadi game changer di pasar keuangan. Ibrahim, yang sebelumnya sempat memproyeksikan rupiah bisa menguji level Rp19.000 jika konflik meluas, melihat pembatalan rencana aksi militer oleh AS telah meredam kekhawatiran atas pembengkakan defisit APBN akibat subsidi energi.
Sentimen positif ini tidak hanya menyelamatkan rupiah, tetapi juga menular ke pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini ikut melesat 2,68 persen dan parkir di level 6.043. Jika proses penandatanganan perjanjian damai di Timur Tengah berjalan mulus tanpa hambatan baru, para analis memproyeksikan rupiah berpotensi melanjutkan tren penguatannya menuju kisaran Rp17.700 per dolar AS pada pekan depan.
Liputan: Galang Andika Pratama



