Sebanyak 18 Guru SD – SMP di Kulon Progo Mengudurkan Diri Karena Mencari Pekerjaan Lain

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora ) Kabupaten Kulon Progo menggagas model pembelajaran lebih maju yakni dengan menyiapkan bahan ajar digital atau ekosistem pembelajaran digital.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Sebanyak 18 orang guru sekolah SD – SMP di Kulon Progo mengundurkan diri dari jabatannya. Kemana mereka ?

Ada yang memilih menjadi pamong kalurahan karena dinilai memberikan kepastian penghasilan yang lebih baik.

Ada yang diterima di sebuah bank, da nada pula yang tetap mengajar di beberapa sekolah dekat tinggal mereka.

Ada yang mundur karena ikut suami di luar kota, lalu ada juga yang mundur karena ingin mencxari pekerajaan lain.

Ada yang memilih menjadi pegawai SPPG ngurus MBG, meski yang ini masih belum muncur dari kedudukannya sebagai guru.

Ada yang mengundurkan diri karena hamil, lalu ada yang beralasan tempat kerja jauh, sehingga tentu ini akan menganggu stabilitas rumah tangga mereka.

Kondisi ini berdampak pada semakin meningkatnya kekurangan tenaga pengajar di Kulon Progo, yang sebelumnya sudah terjadi di berbagai sekolah.

“Lah ya iya (kekurangan guru) makanya kita tata ini supaya ada regrouping, akan ada juga redistribusi termasuk akan ada guru yang mengajar di dua sekolah untuk mengatasi kekurangan guru,” tandasnya.

Langkah penataan melalui regrouping dan redistribusi guru kini menjadi opsi yang disiapkan Pemkab Kulon Progo untuk menjaga keberlangsungan layanan pendidikan di tengah terbatasnya jumlah tenaga pengajar di wilayah tersebut.

Berdasarkan informasi terbaru per Mei 2026, fenomena mundurnya belasan guru (khususnya guru non-ASN) di Kulon Progo disinyalir bukan sekadar masalah pribadi, melainkan indikasi adanya masalah sistemik.

BACA JUGA  Ekonomi Kulon Progo Tumbuh Melesat 5,69% di Triwulan I 2026, Pemkab Siap Genjot Pembangunan Infrastruktur

Alasan utama pengunduran diri massal ini adalah jarak lokasi mengajar yang jauh dari tempat tinggal (domisili) para guru.

Fenomena mundurnya belasan guru ini dinilai sebagai masalah sistemik dalam pengelolaan tenaga pendidik, bukan sekadar kendala pribadi.

Awalnya, para guru berharap penempatan kerja sesuai dengan domisili mereka, namun kenyataannya ditempatkan di luar jangkauan.

Beberapa laporan menunjukkan ketidakbetahan guru dengan kondisi lingkungan kerja atau beban mengajar.

Sebagai informasi tambahan, isu pengunduran diri guru Sekolah Rakyat juga sempat viral pada pertengahan 2025 dengan alasan serupa, yaitu kendala domisili.

Liputan: Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *