Sedikit Lagi Rupiah Ada di Angka Rp 18.000 per Dollar AS, Itu Artinya Daya Beli Kita Melemah Banget

Stok Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton, Bulog DIY Catat Pengadaan 120 Ribu Ton (foto/dok)

Jakarta, Proliman News – Presiden Prabowo Subianto kembali memberi tanggapan atas kekhawatiran publik menyusul nilai tukar rupiah yang terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat.

Di hadapan masyarakat, ia menyampaikan pandangannya bahwa dampak pergerakan mata uang asing tersebut tidak terlalu dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia, khususnya mereka yang tinggal di pedesaan.

 “Rakyat di desa gak pakai dolar kok,” ucap Prabowo tegas.

Menurutnya, kehidupan ekonomi masyarakat desa masih sangat sederhana dan berputar menggunakan mata uang rupiah sepenuhnya dalam setiap transaksi harian.

Mereka beraktivitas, berdagang, dan memenuhi kebutuhan hidup tanpa berurusan dengan valuta asing, sehingga naik-turunnya nilai tukar dolar tidak berpengaruh langsung pada kantong mereka.

 Pernyataan ini disampaikan untuk meredam kekhawatiran berlebihan yang tengah berkembang. Meski demikian, pandangan ini pun memicu diskusi luas. Sebab, meskipun tidak memegang dolar, kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak, hingga bahan baku makanan seperti kedelai masih banyak yang bergantung pada pasokan luar negeri.

Ketika rupiah melemah, harga barang-barang tersebut tetap ikut naik dan akhirnya tetap dibayar oleh rakyat desa pakai rupiah.

 Di balik pernyataan itu, pesan utama yang ingin disampaikan pemerintah adalah fokus pada ketersediaan pasokan barang dan stabilitas harga di dalam negeri.

Selama kebutuhan dasar aman dan harganya terjangkau, gejolak mata uang asing dinilai tidak akan mengganggu ketahanan ekonomi rakyat kecil.

BACA JUGA  45 Karyawan PT Selo Adikarto Temui Bupati Kulon Progo Agung Setyawan, Mereka Terlantar !

Di sisi lain, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan.

Per Selasa (28/4/2026) pagi, nilai tukar rupiah melemah 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp 17.223 dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.211 per dolar AS.Hari ini Minggu (17/5/2026) rupiah kembali terpuruk diangka Rp 17.600 per dolar AS, atau sedikit lagi mencapai angka Rp Rp 18.000 per dolar AS.

Kondisi pelemahan Rupiah telah memicu kekhawatiran di media sosial.

Sejumlah unggahan bahkan membahas skenario jika Rupiah melemah hingga Rp 20.000 per dolar AS.

“Skenario terburuk, apa yang terjadi kalau Dolar tembus Rp 20.000 besok?” tulis sebuah akun.

Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa dampaknya bisa berupa kenaikan harga bahan pokok seperti mi instan dan tempe, meningkatnya harga barang elektronik seperti gadget dan laptop, hingga naiknya biaya pendidikan.

Lalu, apa sebenarnya dampak jika Dollar AS benar-benar menembus Rp 20.000, dan apa penyebab pelemahan Rupiah saat ini?

Jika harga tempe sudah melejit, karena kedelai harus impor maka bisa dipastikan tidak kemampuan daya beli masyarakat melemah.

Lalu jika kemampuan masyarakat menurun, disebut apa kalau bukan collapse ?

Ini yang dibantah Presiden Prabowo bahwa masyarakat desa tidak terpengaruh karena alat tukar mereka bukan dolar melainkan rupiah.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *