Yogyakarta, Proliman News – Di tengah hiruk pikuk zaman yang kian kompleks, para santri dari berbagai pesantren di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menorehkan langkah bersejarah.
Di bawah komando Badan Eksekutif Mahasiswa Pesantren (BEMP) Seluruh Indonesia Wilayah DIY, mereka menggelar kegiatan bertajuk ‘Seruan Aksi Sholawat: Al-Harakat wal Harakat’, sebuah gerakan spiritual dan moral yang menegaskan peran santri sebagai penggerak perubahan menuju keadilan sosial dan kemanusiaan.
Kordinator Wilayah DIY Badan Ekserkutif BEMP Seluruh Indonesia Muhammad Dhiyauddin menjelaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan secara kolektif dengan masyarakat Yogyakarta.
Harapannya semua elemen dapat terlibat dalam menciptakan kondisi Yogyakarta yang aman dan terus istimewa.
“Kegiatan ini kita laksanakan dengan suka cita bersama masyarakat mulai dari Ex Parkiran Abu Bakar Ali menuju titik nol, kita (BEM Pesantren DIY) kompak mengenakan busana khas santri yakni sarung, baju putih, dan kopiah hita,” ujar Dhiya.
Seruan kali ini bukan teriakan amarah yang menggema, melainkan lantunan sholawat doa yang menembus langit, membawa pesan damai dan harapan bagi bangsa.
Alunan rebana dan suara hadrah berpadu harmonis dengan gema takbir dan seruan moral.
Suasana yang tercipta bukan sekadar aksi massa, tetapi majelis dzikir di ruang publik.
Para santri menghadirkan energi spiritual yang membungkus makna perjuangan bahwa melawan penindasan tidak selalu dengan kemarahan, tapi dengan keberkahan dan kesucian niat.
“Al-Harakat Wal Harakat bukan hanya sebuah slogan, tetapi falsafah gerak hidup santri, gerak untuk menggerakkan, perubahan untuk kebaikan. Dalam konteks sosial, tema ini mengandung pesan bahwa setiap langkah santri hendaknya menjadi inspirasi dan dorongan untuk menegakkan nilai keadilan, kemanusiaan, dan kesetaraan,” imbuh Ayub Abdullah selaku kordinator Kajian dan Isu.
Kegiatan ini menjadi simbol bahwa santri hadir bukan sekadar di ruang-ruang pesantren, tetapi juga di ruang sosial masyarakat.
Santri adalah entitas yang hidup di tengah rakyat, memahami penderitaan, dan berkomitmen menjaga keutuhan bangsa.
Melalui lantunan sholawat, para santri menyerukan perlawanan terhadap segala bentuk ketimpangan, penindasan, dan ketidakadilan yang masih terjadi di berbagai lini kehidupan.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan pudarnya nilai moral, aksi sholawat ini menjadi pengingat bahwa agama bukan sekadar ritual, tetapi kekuatan yang membimbing manusia pada kebenaran.
Gerak santri adalah gerak spiritual yang membumi, menghadirkan kesejukan di tengah panasnya dinamika sosial dan politik bangsa.
“Santri sejak dahulu dikenal sebagai garda moral bangsa. Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga kini, santri selalu hadir membawa semangat kejujuran, kesederhanaan, dan keberanian,” ungkapnya
Melalui kegiatan ini, BEM Pesantren Wilayah D.I. Yogyakarta menegaskan kembali peran santri dalam sejarah panjang Indonesia. Santri bukan sekadar pelajar agama, tetapi juga intelektual yang sadar sosial dan pejuang yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
Kegiatan sholawat ini bukan hanya ritual keagamaan, melainkan manifestasi perlawanan damai terhadap keserakahan, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial.
Di tengah gema rebana dan syair pujian kepada Rasulullah, santri mengumandangkan tekad untuk terus berjuang dalam jalur yang mulia, jalur ilmu, moral, dan kemanusiaan.“Santri tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari sejarah panjang bangsa ini. Ia membawa misi luhur untuk menjaga keutuhan negeri dan memperjuangkan keadilan dengan cara yang beradab,” pungkasnya.
Liputan : Reinaldy Dwi



