Agung Setyawan: Kulon Progo Perlu Membuat Managemen Tata Kelola Irigasi Baru Kedepannya

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat agar juga mewaspadai potensi gelombang tinggi hingga 4 meter di perairan sepanjang pantai selatan DIY.(foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Kulon Progo memerlukan tata kelola irigasi yang lebih rapi agar kasus rebutan air di setiap kali memasuki musim tanam tidak terus berulang.

“Saya cermati, problem rebutan air itu sepertinya terus berulang sepanjang tahun, kenapa tidak kunjung ada solusi ? Padahal sumber air di Kulon Progo banyak alternatif,” ujar Cabup Kulon Progo Nomor Urut 1, Agung Setyawan, Sabtu (11/101/2024).

Dampak dari tidak terbangunnya tata kelola irigasi maka kerap terjadi kasus lahan sawah tidak teraliri air selama berbulan-bulan meski sudah waktunya tanam padi.

Ini karena bulak-bulak yang ada di petit atau posisinya paling ujung tidak terlayani air irigasi, sementara musim tanam sudah kelewat. Akibatnya lahan sawah mereka berbulan-bulan mangkrak.

“Kita akan kaji ini bersama-sama. Bersama pengurus irigasi (P3A), kelompok tani dan pemerintah tentu saja, duduk satu meja guna merumuskan managemen baru tata kelola irigasi yang berkeadilan,” katanya.

Kalau problem irigasi tidak tertangani dengan baik maka kisruh irigasi akan terus terjadi, berulang-ulang, dan menganggu produktifitas padi.

“Ini kan problem klasih, tidak ketemunya managemen irigasi, kebutuhan riil petani versus standar operasional irigasi (SOP Irigasi, red). Kenapa selalu terjadi perdebatan sengit antara petugas irigasi dan petani ? Pasti ada titik temunya, “ tambah Agung Setyawan.

Ya tadi, diperlukan paradigma baru pengelolaan air irigasi di Kulon Progo, lanjutnya dalam perbincangan pagi seputar problem irigasi di berbagai wilayah di Kulon Progo.

BACA JUGA  Stok BBM Bagi Pemudik Lebaran di jalur Selatan Jawa Dipastikan Aman, Lonjakan Kebutuhan Capai 27 %

 Agung Setyawan menyampaikan, sumber air melimpah di Kulon Progo, ada dari bendungan atau waduk, ada sejumlah sungai yang mengelilingi, bahkan bisa menggunakan sumur bor bagi petani yang butuh air minimalis.

Intinya, wilayah ini berlimpah air di mana-mana. Dan bersyukur tidak banjir saat musim penghujan dan tidak kekeringan di musim kemarau.

“Ini satu kelebihan dan karunia Tuhan yang luar biasa. Maka butuh pemikiran maju, untuk menyelesaikan problem irigasi,” tambahnya.

Agung Setyawan mencontohkan, dulu ada pompa besar untuk menyedot air dari sungai Gon Sairo ke embung besar untuk pertanian lahan pasir di Trisik, lalu ada sudetan irigasi di ujung Kalurahan Banaran dari Sungai Progo untuk lahan sawah di Galur sisi selatan.

“Model ini perlu dihidupkan lagi, mungkin perlu diinventarisir juga beberapa fasilitas penopang irigasi yang kini mangkrak, ”katanya memberi contoh.

Lalu melimpahnya sumber air di Sungai Progo itu kenapa tidak pernah terpikirkan untuk dibuat embung-embung penampung air yang dipompa, atau sejenisnya.

“Yang paling penting dikedepankan, jangan menyalahkan keadaan, jangan menyalahkan iklim, ke depan harus berpikir solutif, plan A jika musim kemarau bagaimana, plan B jika musim penghujan bagaimana, itu lebih sehat dan rasional,” ujarnya.

Karena Kulon Progo ketunggon banyu, Sungai Progo mengalir terus sepanjang tahun (dari Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi dan Menoreh)

Kali Tinalah airnya tidak pernah henti, Kali Serang selalu mengalir dari tuk Mudal dan Sermo. Saluran Kalibawang terus mengairi irigasi dari Kali Progo sisi utara.

BACA JUGA  DPRD Kulon Progo Menerima Usulan Revisi Perda KTR dari Serikat Pekerja Rokok dan Pengusaha

“Meminjam pernyataan para pakar, ketunggon kali seperti ini harus disyukuri dengan tindakan nyata, yakni merumuskan manageman tata kelola irigasi,” ungkapnya.

Mestinya Kulon Progo makmur dan tidak kekurangan air di seluruh wilayah , apa lagi sampai terjadi kasus telat tandur gara-gara tidak kebagian air.

“Yang seperti ini kok sudah saatnya diakhiri. Malu rasanya,”tutupnya.

Liputan : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *