Kulon Progo, Proliman News – Koordinator Kelompok Konservasi Penyu Abadi Trisik, Edi Yulianto, mengatakan abarasi telah menenggelamkan areal konservasi penyu di kawasan wisata Pantai Trisik.
Seluruh bangunan berupa kolam penetasan, penangkaran dan kolam indukan penyu sebagian besar sudah hilang tergerus abrasi.
Tinggal bangunan kolam innduk dan pembesaran yang tersisa, namun pondasinya sudah ngongkang dan tinggal menunggu waktu pasti hancur.
“Apa mau dikata. Sudah hancur, mau bilang apa. Meski sebenarnya sejak tahun 2021 lalu kami sudah usul dilakukannya relokasi ke tempat yang aman, “ ujarnya Sabtu (19/101/2024).
Edy Yulianto mengtakan, relokasi itu digagas semata-mata agar kegiatan konservasi ini bisa pindah ke lokasi yang lebih aman jauh dari ancaman abrasi.
“Karena abrasi itu terus terjadi empat tahun belakangan sejak 2020, di mana abrasi terbesar terjadi pada 2023, dan hari ini areal konservasi benar-benar ludes,” kata Edi Yulianto.
Edy Yulianto mengatakan, kelompoknya pernah menyampaikan relokasi tahun 2021 agar bisa pindah ke samping pendopo jauh lagi dari bibir pantai.
Bibir pantai di objek wisata Pantai Trisik sendiri terus terkikis gelombang besar pantai selatan dalam beberapa tahun belakangan hingga merangseg ke kawasan pemukiman.
Bibir pantai berubah jadi jurang atau palung sedalam empat meter yang memanjang berkilo-kilo.
Pohon-pohon cemara tumbang, bangunan fasilitas umum rusak dan hancur, warung semi permanen rusak bahkan kawasan bermain Laguna Pantai Trisik pun hancur.
Nah, jurang memanjang itu juga dekat dengan areal tempat penyu bertelur, dan sangat dekat dengan bangunan penetasan dan pembesaran tukik anak penyu.
“Relokasi tempat konservasi penyu sangat mendesak sebenarnya, saat itu,” katanya.
Apakah ke depan bakal ada tempat lain yang bisa dijadikan areal konservasi penyu atau tidak tentu tergantung kondisi alam juga.
“Karena areal konservasi ini ada karena di areal ini dekat dengan lokasi dimana penyu bersarang untuk bertelur. Yang bisa mengarahkan penyu bersarang dimana kan penyu sendiri, bukan manusia,” ujar Edy Yulianto.
Kalau areal konservasi pindah ke tempat lain yang jauh dari sarang telur penyu tentu butuh pemikiran lebih lanjut.
Toh konservasi ini dulu juga tidak direncanakan, tetapi tindakan spontan warga karena khawatir dengan perburuan telur penyu, warga berupaya menyelamatkan dengan membuat kegiatan konservasi.
Telur dipindahkan ke tempat penetasan. Setelah menetas, tukik dilepas ke laut.
Jumlah sarang penyu sendiri tidak tetap, tercatat pada 2022 ada 20 sarang, tahun 2021 ada 30 sarang dan 60 sarang di 2020. Pada 2023, pegiat mendapat delapan sarang, setiap sarang bisa berisi 300 telor.
Penetasan dan pelepasliaran tukik sendiri mencapai 1.500-3.000 ekor dalam satu tahun. Kegiatan kelompok ini cukup aktif.
“Sekali lagi, kondisi sudah hancur. Semula kami mengharapkan pusat konservasi bisa pindah ke tempat yang lebih aman dari ancaman abrasi,” katanya.
Liputan : Suyono Sugondo



