Pasca Muktamar NU di Tambakberas, Jombang, akhir Agustus 2026, arah politik nasional berubah cepat.
Setelah Presiden Prabowo menerima KARTANU di hadapan ribuan warga NU, sorak sorai dan tandatanya besar menggelora.
Simbol kedekatan itu belum kering, selang 1 minggu langsung muncul Buku “Keislaman Ala Prabowo” di toko-toko dan jagat media.
Seolah ingin mengatakan : “Kami akan maju lagi bersama 17 juta nahdliyin, kami beragama di jalur NU, kami paling Islami.”
Pola ini bukan baru. Sebelumnya publik juga dihebohkan pernyataan seorang tokoh PSI yang mendeklarasikan Jokowi sebagai “nabi”. Meski kemudian diklarifikasi sebagai “gaya bahasa”, namun jejaknya tetap tertinggal.
Agama dipakai, dipinjam, lalu dikembalikan dalam kondisi lecek.
Bagi kaum mukmin, ini bukan hal mengagetkan. Pasca wafatnya Rasulullah SAW, sejarah Islam mencatat berulang-ulangnya tragedi yang sama.
Muncul nabi-nabi palsu seperti Musailamah Al-Kadzdzab di Yamamah, Aswad Al-Ansi di Yaman, dan Sajah dari Bani Tamim.
Mereka semua punya rumus identik: mengklaim kesucian, memakai simbol agama, mengumpulkan massa dengan narasi langit, lalu menolak dikritik karena dinilai “melawan Tuhan”.
Prabowo jelas Ber KARTANU, PAN mengklain sebagai Partai Anak NU, tanda apa ini untuk bangsa kita yang mayoritas Muslim?
Pertama, tanda kebangkrutan gagasan. Ketika kinerja, data, dan hasil kerja sudah tidak cukup menjual, maka agama ditarik ke panggung.
Muktamar dijadikan backdrop, KARTANU dijadikan properti, dan buku keislaman dijadikan katalog. Bukan untuk dakwah, tapi untuk elektabilitas.
Kedua, tanda pembajakan ruang sakral. Masjid, pesantren, dan ormas besar diseret masuk ke arena politik praktis.
Ulama dipaksa memilih kubu. Santri dipaksa jadi buzzer. Akibatnya, mimbar kehilangan wibawa dan umat kehilangan rujukan.
Ketiga, tanda penjajahan akal. Rakyat digiring pada logika berbahaya: “Yang dekat dengan kami berarti paling Islami. Yang kritik kami berarti memusuhi agama.”
Padahal Islam justru memerintahkan amar ma’ruf nahi mungkar tanpa pandang bulu. Bahkan kepada penguasa.
Inilah bahayanya ketika agama dijadikan trending kekuasaan. Ia kehilangan ruhnya. Shalat hanya jadi konten, ayat hanya jadi caption, dan iman hanya jadi kaos.
Bangsa ini tidak butuh pemimpin yang punya buku tentang keislaman. Kita butuh pemimpin yang punya malu saat rakyatnya lapar.
Tidak butuh yang dipanggil “nabi” oleh tim sukses. Kita butuh yang sujud paling lama saat tidak ada kamera.
Karena ingat, Tuhan tidak butuh dibela dengan poster. Agama tidak butuh dipromosikan dengan pencitraan.
Di akhir nanti, malaikat tidak tanya “kamu tim KEKUASAAN atau bukan”. Yang ditanya: “Kamu menegakkan keadilan atau ikut menzalimi?”
Jika jawabannya diam, maka bersiaplah. Keberkahan akan dicabut, dan sejarah akan mengulang dirinya.
Penulis : Imam Safi’i



