Manunggal Fair: Pameran Pembangunan, Pasar Malam Kabupaten atau Pasar Malam Dusun Terbah ?

(Foto/Dok/ist)

Oleh: Tommy Maulana

Manunggal Fair 2026 baru saja mulai, terlihat banyak stand kosong dan menariknya dari tahun ke tahun isinya itu-itu saja. Banyak jajanan !

Jualan tanaman, stand dinas yang berisi data-data dinding, dan tidak ada inovasi yang disuguhkan di moment istimewa ini.

Padahal dinas-dinas punya persiapan setahun untuk bekerja keras menciptakan suguhan inovatif, paling baru dan spektakuler di Manunggal Fair tahun yang akan datang.

Kenapa dinas-dinas tidak berlomba memerkan temuan baru, inovasi baru, atau hasil rekayasa mereka selama setahun ini. Di bidang apa saja !

Dinas Pertanian dan Pangan, kenapa tidak memerkan cabai raksasa hasil budidaya petani binaannya ? Atau ada rekaya budidaya yang diharapkan bisa mendongkrak ekonomi petani atau sejenisnya ?

Kenapa Dinas Kelautan Peternakan dan Perikanan tidak ada rekayasa jet ski buatan nelayan lokal yang bisa digunakan untuk menyusuri sejumlah sungai di Kulon Progo?

Atau hasil perikanan jenis ikan langka, atau penyelamatan jenis ikan yang hampir punah di Kulon Progo.

Atau Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian, kenapa tidak memerkan hasil rekayasa industri yang membuat rakyat Kulon Progo bangga dan terinspirasi ?

Pemkab Kulon Progo sepertinya perlu evaluasi besar-besaran pada pelaksanaan Manunggal Fair!

Dari tahun ke tahun masalah klasik terus terulang, sepi pengunjung, tidak ada inovasi, dan bahkan tak lebih meriah dibanding sekedar Pasar Malam Desa.

BACA JUGA  Menunggu Datangnya Malapetaka Besar Akibat Kasus Pidana Perdata dan Politik di PT SAK

Pemkab Kulon Progo kenapa tidak merancang sebuah suguhan spektakuler di setiap momen Manunggal Fair ?

Kondisi carut marut Manunggal Fair 2026 harusnya bisa menjadi titik balik Reformasi Event Manunggal Fair, kalau perlu juga evaluasi besar- besaran karena event ini merupakan rangkaian HUT Kulon Progo.

Jadikan hari Jadi Kulon Progo mejadi moment spektakuler dan labih baik, bukan sekedar yang penting gayeng, ono pasar malam.

Sehingga justru marwah Manunggal Fair atau kalau dulu disebut Pameran Pembangunan jadi tak bermakna.

Kalau sekedar pasar malam, dusun-dusun di Kulon Progo sangat sering mengadakan pasar malam, bahkan bisa jadi malah lebih meriah.

Tapi masa sih Manunggal Fair Pasar Malam Tingkat Kabupetan tidak ada bedanya dengan pasar malam dusun.

Tukang stand dawet, onde-onde, bakso, pecel, jualan topi jualan kaos, jualan jaket, itupun pelakunya dari Jawa Barat.

Mari jadikan event tersebut lebih berkualitas sehingga punya multi effect bagi ekonomi rakyat yang situasinya sedang sulit bahkan kini mulai terasa  sampai sudut-sudut desa di Kabupaten Kulon Progo.

Mengutip tulisan netisen di media sosial, yang berjudul Ini Pasar Malam atau Pameran Pembangunan !!!

Beberapa tahun terakhir ini pelaksanaan Manunggal Fair yang dulu kita kenal dengan Pameran Pembangunan terasa kurang bergairah dan tidak ada Evaluasi serta Inovasi.

Kita lihat pelaksanaan tahun 2026 ini, banyak stand stand kosong dan agenda agenda yang tidak menarik. Ada beberapa catatan netizen :

  1. Tidak adanya sistem evaluasi dan inovasi yang terintegrasi.
  2. Yang ada bukan Pameran Pembangunan tapi Pasar Malam karena yang banyak muncul adalah permainan dan jajanan.
  3. Tidak adanya lay out yang memadai sehingga tidak ada jalur yang teratur untuk menikmati pameran.
  4. Kurang partisipasi dari unsur Kalurahan, Kapanewon dan OPD, yang sebenarnya unsur inilah yang harusnya mampu untuk menampilkan produk atau layanan serta edukasi buat masyarakat.
BACA JUGA  Resmi Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Nazara Komitmen Jaga Defisit APBN di Bawah 3 Persen

Dan harusnya semua stanb ini difasilitasi Pemda Kulon Progo, stand gratis listrik gratis. Lalu diatur layout secara teratur.

  1. Agenda panggunghiburan yang belum dikemas secara apik, penampil dan acara hanya dibuat kayak formalitas saja. Padahal potensi seni dan keanekaragaman kreasi komunitas di Kulon Progo sangat banyak.
  2. Kalau dilihat banyak logo yang muncul di kegiatan Manunggal Fair, ada Dais, Aneka Usaha, Pemda Kulon Progo dll logikanya anggarannya besar.

Apakah ada tumpang tindih anggaran? Perlu adanya transparansi anggaran ke masyarakat.

  1. Kenapa banyak pedagang makanan atau kelompok kelompok pasar malam yang hadir, apakah memang Manunggal Fair ini sudah berubah menjadi ajang mencari duit, bisnis murni dengan menjual stand, lokasi, listrik dll.

Kalau memang orientasinya bisnis untuk mengejar PAD lalu menghilangkan nalar pemberdayaan bikin saja Bazar Produk Keren Manunggal Fair.

  1. Tempat yang selalu berpindah, Taman Budaya, Lapangan Cangkring, Alun-alun Wates. Potensi pasca acara dengan munculnya kerusakan rumput, taman dan lain-lain sering terjadi dan kurang adanya perawatan.

Atau lebih baik hentikan saja Maunggal Fair, karena memang tidak ada gunanya bagi kemajuan masyarakat Kulon Progo !

Tommy Maulana

Pengamat Sosial dan Pelaku Usaha

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *