Kulon Progo mendapatkan kunungan 1,8 juta wisatawan ke Kawasan Pantai Glagah Indah, sampai bulan Juli 2026 lalu.
Jika pendapatan dari tiket wisata Pantai Glagah sebesar Rp 6,33 miliar, maka setiap wisatawan hanya membayar tiket wisata sebesar Rp 3.500 per orang.
Angka ini pun dinilai sebagai lonjakan signifikan kunjungan wisatawan karena adanya beberapa destinasi unik yang kini viral Glagah di Waktu Senja.
Lonjakan ini dapat dilihat pada objek wisata Pantai Glagah-Congot yang kini menjadi jujugan wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Kulon Progo Sutarman menyampaikan, wisata di Bumi Binangun mulai banyak dikenal masyarakat luas. Lantaran, terdapat rangkaian momentum pertumbuhan Kulon Progo.
Mulai dari keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA) hingga pelaksanaan beberapa kegiatan hiburan.
Momentum itu juga dimanfaatkan pelaku wisata untuk menarik wisatawan.
Dinpar Kulon Progo mencatat jumlah kunjungan wisata Januari hingga Juli 2026 mencapai 1,8 juta orang atau tumbuh sekitar 66 persen. Angka yang fantastik tentu saja.
Peningkatan jumlah kunjungan ini, tentu berdampak ke pendapatan asli daerah (PAD).
Target PAD dari retribusi wisata sejumlah Rp 7,82 miliar, kini PAD hingga pertengahan tahun mencapai Rp 6,33 miliar.
“Ada momentum yang mengangkat kunjungan wisata di Kulon Progo, terutama wisata di pesisir pantai,” ucap Sutarman, dikutip sebuah media.
Mari kita hitung berapa penghasilan retribusi masuk Kawasan Pantai Glagah, dengan 1,8 juta wisatawan yang berkunjung.
Jika sebanyak 1,8 juta wisatawan menghasilkan duit Rp 6,33 miliar, maka artinya setiap wisatawan hanya membayar tiket wisata sebesar Rp 3.500 per orang.
Sementara tiket wisata Kawasan Pantai Glagah Kulon Progo adalah Rp6.000 hingga Rp10.000 per orang berdasarkan ketentuan retribusi terbaru.
Jika setiap wisatawan dikenakan biaya masuk Rp 6.000 per orang maka, pendapatan dari retribusi sebesar Rp 10,8 miliar.
Jika tiket masuk wisatawan Rp10.000 per orang, maka penghasilan dengan 1,8 juta wisatawan menghasilkan uang sebesar Rp 18 miliar.
Belum uang dari parkir motor Rp3.000 per unit, parkir mobil Rp10.000 per unit dan parkir bus Rp20.000 per unit.
Artinya pendapatan dari sektor parkir wisatawan ditambah tiket masuk wisatawan pasti akan mencapai lebih dari Rp 10 miliar, jika tiket wisata Pantai Glagah Rp 6.000, atau lebih dari Rp 18 miliar jika wisatawan diwajibkan membeli tiket wisata Rp 10.000 per orang.
Kenapa bisa angkanya hanya menjadi PAD Rp 6,33 miliar, apakah masuk dalam biaya operational petugas Dinpar atau menjadi bagian dari pemegang tender retribusi wisata Pantai Glagah ? Ini yang perlu transparansi.
Dinpar Kulon Progo mencatat jumlah kunjungan wisata Januari hingga Juli 2026 mencapai 1,8 juta orang atau tumbuh sekitar 66 persen, atau masuk ke PAD Rp 6,33 miliar dari target PAD dari retribusi wisata sejumlah Rp 7,82 miliar.
“Ada momentum yang mengangkat kunjungan wisata di Kulon Progo, terutama wisata di pesisir pantai,” ucap Sutarman, kepada sebuah media.
Sutarman menyampaikan, lonjakan wisatawan dapat dilihat saat berkunjung di Pantai Glagah dan Congot.
Di tahun-tahun sebelumnya, kedua pantai ini hanya ramai saat liburan. Sekarang, hampir setiap hari kedua pantai ini cukup ramai, terutama saat sore hari. Penyebabnya, adalah daya tarik pemandangan terbaru.
Semenjak dibangunnya pemecah ombak di antara Pantai Glagah dan Congot, wisatawan mulai banyak berkunjung.
Lantaran, area sekitar lokasi pemecah ombak memiliki pemandangan yang menarik. Terutama saat sore hari, lokasi tersebut menjadi spot mencari sunset. Daya tarik baru ini, mulai terlihat, bahkan semenjak pembangunan.
Melihat potensi itu, pelaku wisata yang mayoritasnya masyarakat sekitar lantas berbondong-bondong membangun kafe atau warung di sekitar pemecah ombak.
Beberapa masyarakat, membuat konsep kafe yang identik dengan Bali. Kawasan itu sempat menjadi perbincangan di media sosial, hingga sebagian masyarakat menyebutnya sebagai Kuta Bali Pantai Glagah Congot.
“Kami belum bisa memastikan apakah ada pergeseran pengunjung, tapi wisata pantai memang melonjak drastis,” ungkapnya.
Penulis : Suyono Sugondo



