Pagerharjo Samigaluh Kulon Progo Dulu Menjadi Kawasan Culture Stelsel Kini Jadi Pusat Kopi Jawa Liberica

Pedukuhan Kalinongko merupakan wilayah penghasil kopi dari zaman penjajahan sehingga Kopi Trajumas Coffee yang ada di Kalinongko ini bedampingan dengan pohon kopi dengan jenis Liberika. (foto/ist)

Kulon Progo, Proliman News – Sejarah kelam culture stelsel mendorong Agustinus Sulistyo atau Agus Tio untuk menjadikan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, kaya.

Di wilayah ini ada 10 pedukuhan. Semuanya berpotensi untuk dikembangkan tanaman kopi. Itu sebabnya dulu Belanda mengincar wilayah ini sebagai pusat budidaya kopi Jawa.

Bersama rekan seperjuangannya ia menemukan pohon kopi ada sejak kolonial Belanda dengan sistem tanam paksa atau dikenal cultuurstelsel.

Dari tanam paksa itu, diketahui ada Kopi Londo atau namanya Kopi Siberia atau dikenal saat ini dengan Kopi Liberica. Lalu ia membuat Trajumas Java Coffe.

“Waktu itu tahun 2019 ada beberapa hal yang menggelitik kita dengan potensi yang sedemikian luar biasa. Kenapa desa ini belum terkenal. Kalau ke Menoreh atau Pagerharjo gak ngerti mau ngapain, gak ada tujuan di awal,” kata Tio.

Dari situ, ia mulailah bekerjasama dengan BUMDes untuk mengembangkan kopi secara swadaya masyarakat. Pada tahun 2021, tertanam 12.000 batang bibit kopi lokal.

Disana, lahan-lahan yang belum maksimal mereka coba manfaatkan dan membuat target-target yang akan dicapai selama 10 tahun ke depan terhitung sejak 2019.

 “Salah satu targetnya yaitu 50 hektar (ha) tanaman kopi. Untuk saat ini, sudah tercapai 24 ha. Cuma, karena lahannya punya petani gak bisa hamparan-hamparan karena pegunungan, sehingga ada sebagian yang sudah ditanam misalnya 5 ha,” ucap Tio.

BACA JUGA  Sedikit Lagi Rupiah Ada di Angka Rp 18.000 per Dollar AS, Itu Artinya Daya Beli Kita Melemah Banget

Perkebunan itu terus berkembang sampai 2023. Di tahun 2023, Trajumas Java Coffe resmi didampingi oleh BUMDes Pagerharjo, untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Tahun itu pula ia mendapat bantuan dari Paniradya Kaistimewan berupa stimulan pupuk dari anggaran Bantuan Keuangan Khusus (BKK). Serta ada beberapa Tanah Kas Desa (TKD) yang dimanfaatkan di sekitar Trajumas Java Coffe.

Hingga saat ini, sudah ada kurang lebih 123 petani dari 10 pedukuhan yang turut dilibatkan dalam pengembangan usaha tersebut. 

Selain Kopi Liberica, ada dua varian kopi unggulan yang bisa dinikmati di Trajumas Java Coffe yaitu Robusta dan Arabica.

Tio mengatakan kelebihan kopi produksi Trajumas Java Coffe ada sedikit aroma rempah ketika dinikmati. Hal ini karena pohon kopinya ditanam berdampingan dengan beberapa pohon rempah-rempah seperti pohon kemukus atau dikenal lada hitam.

Lebih menariknya lagi, ada beragam paket yang bisa dinikmati wisatawan saat berkunjung ke Agroeduekowisata Budaya Trajumas Java Coffe.

Di antaranya paket edukasi yang dibandrol seharga Rp 150.000. Di dalam paket tersebut, wisatawan bisa mengetahui bagaimana budidaya tanaman kopi mulai dari pengolahan hingga penyajiannya.

Serta, paket live in selama 1 hari 1 malam dengan harga sekitar Rp 250.000.

Paniradya Pati Kaistimewaan, Aris Eko Nugroho menuturkan bahwa pihaknya melakukan penguatan agroeduekowisata budaya Trajumas Java Coffe di Kabupaten Kulon Progo ini.

BACA JUGA  Ekspor Gula Semut Kulon Progo Terkendala Sulitnya Sertifikasi, Arif Singgih: Yang Jelas Sangat Mahal !

Mulai dari monitoring evaluasi program kegiatan untuk pengembangan kopi di Kalurahan Pagerharjo melalui pendekatan kawasan terpadu.

“Untuk pengembangan (agroeduekowisata budaya Trajumas Java Coffe) ada bantuan tanaman dilakukan dinas pertanian, juga ada bantuan peralatan maupun bangunan,” katanya. 

Pada 2023, Paniradya Kaistimewan menggelontorkan anggaran sebesar Rp 120.000.000 dari BKK Desa Mandiri untuk pembangunan rumah produksi.

Pada 2024, menggelontorkan dana dari BKK ke Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo hibah kelompok tani Taruna Tani sebesar Rp 124.800.000 untuk pengadaan bibit 7.800 batang kopi arabica dan pupuk 23.400 kg .

Pada 2025, menggelontorkan BKK Kawasan Terpadu untuk pengadaan bibit kopi sejumlah 20.000 batang sebesar Rp 250.000.000 serta anggaran Rp 400.000.000 untuk pembangunan penyempurnaan kawasan rumah produksi.

Kopi Jawa atau di luar negeri terkenal sebagai Java Coffee dideskripsikan dengan penampakan bean bulat dan kecil.

Di Indonesia, terutama di Pulau Jawa kopi jenis Ini terkenal dengan sebutan kopi umbaran atau kopi tiyung, karena cara panen yang dahannya  ditiyungke tanpa dipanjat.

Kopi ini merupakan termasuk varietas tua dari Klon SA, kopi yang dibiarkan mengumbar (tumbuh liar)  tanpa dilakukan proses Penyambungan atau stek.

Pedukuhan Kalinongko merupakan salah satu padukuhan  penghasil kopi ini, berada di Kalurahan  Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh,  Kabupaten Kulon Progo.

Karena Pedukuhan Kalinongko merupakan  wilayah penghasil kopi dari zaman penjajahan sehingga Kopi Trajumas Coffee yang ada di Kalinongko ini bedampingan dengan pohon kopi dengan jenis Liberika.

BACA JUGA  Peternak di Yogyakarta Bagi-Bagi Ayam Gratis Protes Tingginya Harga Pakan

Kopi ini dipetik merah dan diolah dengan proses dengan benar dari cara petik, penjemuran, rosting sehingga menghasilkan citarasa unik dan khas dibandingkan varietas robusta biji ukuran besar.

Kopi ini bisa dijadikan sebagai bahan sajian seduhan manual, ataupun untuk blend base pembuatan espresso atau untuk kopi susu kekinian. Varietas : Robusta; Altitude : 600-800mdpl.

Liputan : Hari Sutanto

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *