Saya masih tertarik dengan pernyataan Wabub Kulon Progo Haji Ambar Purwoko yang ingin membuat zero dalan elek tahun 2028.
“Ah yang mbener wae. Emang Kulon Progo punya duit berapa untuk mem buat zero dalan elek di Bumi Menoreh,” kata Ir Supranoto, kawan lama saya di Undip Semarang.
Supratono membuat analisa, berapa kebutuhan untuk membuat semua jalan di wilayah ini halus mulus ( bukan kelas satu) tetapi lumayan baik.
Keluarlah angka Rp 4 triliun, untuk mengubah Kulon Progo menjadi zero dalan elek, hanya sekelas halus, dan tidak semua jalan harus hot mix.
Ongkos terbesar untuk membuat zero dalan elek di Kulon Progo, transportasi material dan alat berat.
Karena medan yang sulit, bergunung-gunung, susah untuk nge-mop alat berat untuk proyek jalan yang sesungguhnya.
Lalu jalan sempit-sempit, kiri kanan jurang, dan pemukiman warga, seperti yang terjadi di sisi barat wilayah Kulon Progo.
“Apa Wabup Kulon Progo pernah bersepeda atau jalan kali dari Palihan hingga Suroloyo melalui tepi barat ? Ah darimana dia menghitung ongkos zero dalan elek, 2028 ongkosnya berapa?,” katanya Supranoto.
Kalau Cuma anggaran tidak pasti sebesar Rp 234 miliar setahaun untuk infrastruktur, nggak bakal cukup buat program zero dalan elek di Kulon Progo, sampai 2034 sekalipun, “ ujarnya.
Maka saya jadi mangkel banget, membaca statamen Wakil Bupati Kulon Progo yang akan membuat zero dalan elek hingga tahun 2028 mendatang.
Karena angkanya nggak ketemu. Ngalor ngidul. Ini pasti dibungkus narasi politik yang biasa janji-janji tidak ditepati.
Apalagi ia mengatakan, tahun rencana tahun 2028 kalau tidak maka akan sampai tahun 2029.
“Wes jelas cetho iki diplomasi ngehek,” kataku dalam hati.
Saya tahulah bagaimana para politisi itu membual untuk mendapatkan pujian dan tepuk tangan.
Ya salah satunya keberanian membuat pidato hoax yang bertubi-tubi.
Di tengah lamunan saya itu, Supranoto menyadarkan. Ia sengaja menggoda perempuan lewat, bahenal, melenggang di depan kami duduk ngopi.
“Suit-suitt, mari mampir,” katanya.
“Opo mas,” tanya saya.
“Nek ono suit-suit lhoo mak gragap. Padahal gur hoax,” katanya.
Gene wae lur. Dia menyambung obrolan. Bupati-Wakil Bupati suruh turun ke kalurahan-kalurahan, minta maaf, karena jalan-jalan masih buruk.
Lalu minta saran warga, apike piye? Gotong royong diurug lemah, tlethong, opo kerja bakti cari sirtu ( pasir batu) bareng-bareng ke Sungai Progo.
Diecerin semua jalan dan ditlindes bego roder, atau stom. Dadi !
“Rasah mbayar dalane apik, pemimpin dapat pujian warga. Nek njago meneh mesti dadi ! Atau iso ugo ilang pangan codot,” katanya.
Penulis : Suyono Sugondo
Pimred Proliman News



