Jakarta, Proliman News – Apa susahnya Presiden ke-7 Joko Widodo menunjukkan ijasah aslinya, atau kenapa Jokowi terlihat seolah alot dan tidak mudah untuk bergerak menunjukkan ijasah aslinya.
Demikian pertanyaan Akbar Faizal kepada Ferdinan Hutahean di podcast-nya dengan topik bahasan ijasah palsu Jokowi, baru-baru ini.
Menurut Ferdinan Hutahean, dalam kasus ini bukan barang bukan habatan yang sedang diributkan kelompok pembenci Jokowi. Tetapi ini masalah politik, karena dendam dan sakit hati.
“Ada keuntungan politik yang diambil Presiden ke-7 Joko Widodo dengan maraknya kembali isu ijasah palsu,” ujar Ferdinan Hutahean, lebih lanjut.
Keuntungannya, dengan melambungnya kembali isu tersebut apapun dinamaikanya, berarti Jokowi menang dan akan terus menjadi pusaran perbincangan di negeri ini.
“Dalam politik kan begitu, siapa yang bisa membangun situasi publik, dan satu diantaranya adalah publik memperbincangkannya secara heboh dalam jangka panjang itu kemenangan. Maka dia suskses,” katanya.
Maka, kenapa Jokowi tidak sesegera mungkin menunjukkan ijasahnya kepada publik atau melalui aparat hukum, tetapi seolah-olah justru terkesan mengulur-ulur aksi itu.
Padahal kan mudah baginya untuk mengundang pers nasional atau aparat penegak hukum untuk menjadi alat menunjukkan ijasah aslinya.
“Padahal kan mudah baginya untuk menunjukkan ijasahnya kepada publik yang selama ini mengatakan ijasahnya palsu, atau apalah itu,” katanya.
Jokowi juga tahu kenapa tidak mau menunjukkan ijasahnya kepada kelompok pembencinya meski dengan resiko ia terus dihujat dikatakan pembohong dan sebagainya.
Karena Jokowi tahu permainan ini harus ulur agar masyarakat tahu bahwa dirinya masih diperhitungkan karena dengan gugatan ( bukan gugatan hukum, red) isu ijasah palsu banyak kelompok masyarakat yang membela.
Meski di sisi lain, Jokowi juga sangat paham bagi kelompok pembecinya yang terus menerus melontahkan bahwa ijasah Jokowi palsu akan dibuat jengkel karena tidak mendapat respon yang seperti diinginkannya.
Kelompok pembenci ini tidak akan puas jika Jokowi sudah menunjukkan ijasah aslinya dengan cara apapun. Mereka akan terus menyerang Jokowi, dan anak atau keluarganya.
Terutama kepada anaknya yang sekarang dukuk sebagai Wapres Gibran Rakabuming Raka, yang dianggap sebagai naik kursi kekuasaan karena ulah licik Jokowi.
“Perlu dicatat mereka adalah pembenci Jokowi karena latar belakang persetruan politik, seperti HTI, FPI dan kelompok lain. Bukan karena yang lain, maka mereka juga akan teruis menebar opini-opini sesuai dengan keinginnanya,” ujarnya.
Tetapi kita juga tahu, ujar Ferdinan Hutahean, bahwa Jokowi harus isu politik ini, untuk melindungi Gibran (Wapres, red) dan masa depanya.
Kemudian ia juga tahu, para pembencinya yang kini berkumpul di Tim Pembela Umat dan Aktivis (TPUA) hanya segelintir orang yang kalau toh dibiarkan saja tidak akan masalah bagi bangsa ini, katanya.
Artinya Jokowi menghitung betul, seberapa ruginya bangsa ini jika harus meladeni permainan TPUA dan seberapa untung ketia ia harus mengulur serangan kelompok kecil ini.
“Wah kalau begitu,kita semua kena prank ya,” sergah Akbar Faizal spontan.
Ia menilai jawaban itu sangat cerdas, karena sejak awal ia mengatakan apa untungnya menunjukkan ijasah asli dan apa ruginya jika tidak menunjukkan ijasah asli.
“Sekarangsudah ada jawabannya,” ujar Akbar Faizal yang mengundang Ferdinan di studio podcast- nya.
Artinya Jokowi sukses memainkan isu tersebut dan ada keuntungan politik yang diambil Presiden ke-7 Jokowi, dengan melambungnya kembali hebohnya isu ijasah palsu.
Liputan : Suyono Sugondo



