Boyolali, Proliman News – Sebanyak 10 nasabah yang mengaku sebagai korban Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) melaporkan kasus tersebut ke Polres Boyolali.
Mereka mengaku telah menginvestasikan uangnya hingga miliaran rupiah tetapi kini Koperasi BLN tiba – tiba menutup pelayanan.
Mereka mengaku kawatir tidak lagi mendapatkan haknya karena pada hari jatuh tempo yakni 15 Maret 2025, lalu kantor Koperasi BLN tidak melayani nasabah.
Juru bicara nasabah, Aris Carmadi mengatakan kasus tersebut sudah dilaporkan ke Polres Boyolali.
Para korban juga telah dimintai keterangan di Satreskrim Polres Boyolali. Aris berharap kasus tersebut bisa segera selesai.
Kasus ini terungkap karena para nasabah dijanjikan return atau pengembalian investasi mencapai dua kali lipat atau 200% dalam waktu dua tahun. Pembayaran terakhir pada 15 Maret 2025, tetapi uang pengembalian yang dijanjikan tak kunjung masuk rekening.
Mereka mengaku, berinvestasi besar hingga ratusan juta rupiah perorang karena iming-iming pengembalian yang tinggi.
Mereka mendapat dana dari menggadaikan SK Pensiun atau sertifikat tanah ke bank, untuk kemudian diinvestasikan ke Koperasi BLN.
Para nasabah dijanjikan pengembalian investasi mereka setiap 24 bulan sekali, dan ditransfer ke nomor rekening mereka masing-masing.
.“Kalau hari ini yang mengadu 10 orang, untuk kerugiannya sekitar Rp1,2 miliar. Kalau di Boyolali yang menjadi korban cukup banyak, hanya saja sampai hari ini mereka belum melangkah sampai ke kepolisian,” katanya, Kamis (15/5/2025).
Ia mengatakan, korbannya dari kalangan perangkat desa, pensiunan ASN, hingga pekerja swasta. Mereka bergabung sejak 2018 hingga 2024.
Aris bergabung baru sejak 2024 dan sudah mendapatkan return tiap bulannya.
Ia mengaku berinvestasi sekitar Rp60 juta. Ketika investasi tersebut sesuai dengan yang dijanjikan, ia akan mendapatkan return total Rp120 juta.
Namun, ia baru mendapatkan kurang dari itu. Dia menambahkan dari 10 orang tersebut ada yang menabung Rp100 juta hingga Rp400 juta.
“Dugaan teman-teman memang ada unsur skema ponzi,” katanya.
Setelah Maret 2025, ia mencoba mencari tahu soal keberadaan lokasi kantor koperasi, terdekat berada di Salatiga akan tetapi kantornya jarang buka. Ia juga mencoba menghubungi leader atau pimpinan di Boyolali tapi susah dihubungi.
Aris mengatakan pihak koperasi hanya meminta nasabah bersabar dan berdoa, sedangkan tagihan mereka dari bank terus bergulir.
Alasan yang ia terima yaitu rekening koperasi diblokir dan diupayakan legal opini.
Liputan : Lek Sarmawi



