Niken Salindri Pukau Ribuan Warga di Puncak Acara Regeng Suro 2025 Desa Campurejo Temanggung

Tampil di puncak acara Regeng Suro 2025, Niken Salindri pukau ribuan warga Desa Campurejo, Tretep, Temanggung, Jawa Tengah.
Tampil di puncak acara Regeng Suro 2025, Niken Salindri pukau ribuan warga Desa Campurejo, Tretep, Temanggung, Jawa Tengah.

Temanggung, Proliman News – Puncak perayaan Regeng Suro 2025 di Dusun Bakal, Desa Campurejo, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah berubah menjadi malam penuh pesona ketika Niken Salindri, penyanyi langgam campursari asal Jawa Timur, tampil di hadapan ribuan warga masyarakat.

Dengan suara emasnya yang khas dan penuh penghayatan, Niken sukses membius warga yang memadati lapangan desa pada Minggu, 27 Juli 2025 malam.

Malam tersebut bukan hanya sekadar pagelaran seni, namun menjadi penanda kuatnya budaya dan tradisi yang masih hidup di masyarakat lereng Gunung Prau.

Kehadiran Niken dalam pertunjukan wayang kulit dengan lakon “Wahyu Sotya Bumi” yang dibawakan oleh Ki Gondo Suharno, dalang asal Yogyakarta, memperkuat nuansa magis malam Regeng Suro Jilid V.

Dingin malam di kawasan pegunungan tak menyurutkan antusiasme warga. Wajah-wajah bahagia tampak menghiasi kerumunan yang tidak hanya berasal dari Desa Campurejo, tetapi juga dari wilayah sekitar. Rasa persaudaraan dan cinta budaya terpancar jelas sepanjang acara berlangsung.

Menariknya, kemeriahan malam itu juga diramaikan oleh Bupati Temanggung, Agus Setyawan, bersama sang istri, Panca Dewi, yang ikut naik panggung.

Pasangan ini tampil akrab dengan masyarakat, bahkan turut menyanyikan dua lagu populer berjudul “Kalih Welasku” dan “Dumes” bersama Niken. Penampilan mereka mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan meriah dari seluruh penonton.

Tak hanya kepala daerah, Ketua DPRD Kabupaten Temanggung, Yunianto, juga turut menyemarakkan suasana. Ia tampil membawakan lagu campursari “Cinta Tak Terpisahkan”.

BACA JUGA  Bupati Temanggung Agus Setyawan Ingin Genjot Diversifikasi Produksi Pertanian Melalui Tangan Petani Milenial

Pagelaran wayang kulit menjadi inti sekaligus penutup dari rangkaian Regeng Suro Jilid V, yang telah berlangsung selama tiga hari penuh.

Wayang kulit dipilih bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media refleksi dan kontemplasi spiritual, selaras dengan nilai-nilai tradisional yang diusung peringatan bulan Suro.

Ki Gondo Suharno, sebagai dalang malam itu, menyajikan lakon “Wahyu Sotya Bumi” yang sarat makna. Cerita ini menggambarkan perjuangan mencari kebenaran dan keadilan demi keselamatan bumi, sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang tengah mencari arah hidup yang lebih harmonis.

Kolaborasi antara Niken Salindri dengan kesenian wayang membuat pertunjukan tersebut terasa segar dan tidak monoton. Suara merdu Niken berpadu dengan iringan gamelan dan suluk dalang, membawa penonton pada suasana spiritual sekaligus menghibur.

Acara Regeng Suro 2025 bukanlah sekadar hiburan tahunan. Ia telah menjelma menjadi momentum spiritual dan sosial bagi warga Desa Campurejo dan sekitarnya.

Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya, mencakup prosesi merti dusun di Komplek Makam Sepanjang, yang menjadi simbol rasa syukur atas berkah dan keselamatan warga.

Berbagai pertunjukan seni turut digelar sepanjang festival, mulai dari jaran kepang, topeng ireng, hingga hadroh, menunjukkan betapa kayanya ragam budaya lokal yang tetap lestari.

Bupati Agus Setyawan, yang berasal dari desa tersebut, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak.

BACA JUGA  Kabupaten Temanggung Dinobatkan Sebagai Kabupaten Terbaik I dalam Perencanaan Pembangunan

“Saya sangat mengapresiasi semangat gotong royong dan partisipasi masyarakat dalam menyukseskan Regeng Suro tahun ini. Ini adalah bukti bahwa tradisi bisa terus hidup dan menjadi perekat sosial,” ujarnya penuh semangat.***

Liputan: Bagus Kiswanto

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *