Kulon Progo, Proliman News – Pilbup Kulon Progo 2024 tinggal empat bulan lagi. Ini saatnya para kandidat bakal calon bupati mulai berbicara tidak hanya nampang.
“Agar rakyat tahu, gagasan besar apa yang mereka usung untuk membuat lompatan besar untuk Kulon Progo. Kandidat perlu bicara tidak hanya nampang,” ujar Noor Haris Dewan Syuro DPC PKB Kulon Progo.
Dengan bicara rakyat akan tahu apakah kandidat ini sudah menep atau masih mbocahi. Sudah selesai dengan dirinya sendiri atau belum.
“Dan pastikan dia tidak tersandera dengan APBD dan bukan pelaku APBD,” tambahnya.
Bagaimana kandidat ini memandang Kulon Progo ke depan, bagaimana keseriusan dia mengentaskan kemiskinan, harus jelas konsepnya. Harus jelas programnya. Pastikan programnya operatif bukan halu ( khayalan, red).
“Kalau perlu rakyat mengajukan pertanyaan kepada para kandidat bisa melalui interaktif atau medsos, apa saja agenda mereka untuk membuat Kulon Progo melejit dan maju. Simak jawabannya, operatif atau tidak. Halu atau tidak,” ungkap Nor Haris.
Menurutnya, fase ini penting untuk menentukan masa depan Kulon Progo. Dengan kandidat bicara, rakyat akan tahu kandidat ini membawa gagasan besar atau tidak, bisa membangun lompatan bagi Kulon Progo atau tidak. Punya ide besar untuk kemajuan Kulon Progo atau tidak, lanjutnya
Biarkan rakyat menilai sebelum menentukan pilihan nyoblos di bilik suara tanggal 27 November 2024 mendatang.
“Perlu disadarai bahwa tidak semua kandidat yang muncul sekarang ini bakal menjadi calon bupati – wakil bupati, karena masih ada mekanisme lain yakni adanya rekom partai, dan koalisi partai,” tambahnya.
Tetapi dengan kandidat bicara, masyarakat akan tahu, siapa sebenarnya yang pantas untuk memimpin Kulon Progo lima tahun ke depan.
“Jika kandidat yang pantas, dan menjadi idola masyarakat tidak lolos menjadi calon bupati karena tidak direkomendasi oleh partai tertentu atau koalisi partai maka rakyat juga akan tahu siapa yang menghambat keinginan rakyat Kulon Progo untuk maju melompat,” tambahnya.
Ini sekaligus merupakan tantangan bagi partai-partai politik untuk tidak gegabah mengeluarkan rekomendasi calon bupati – wakil bupati karena lima tahun ke depan rakyat memberi reward atau punishmen.
Noor Haris politisi PKB yang juga dosen UNSIQ Wonosobo Jawa Tengah ini menegaskan, kalau sampai ada kandidat tidak memiliki ide untuk membangun lompatan Kulon Progo, terlalu kebangetan.
“Karena masalah di Kulon Prtogo ini cetho welo-welo, ada masalah kemiskinan, ada masalah tata ruang, ada masalah lemahnya daya tawar, tetapi sekaligus ada potensi luar biasa untuk bisa maju,” katanya.
Karena ada sumber daya manusia, ada anggaran yang bisa diraih, ada geo ekonomi, tinggal membangun relasi, membuka akses baik dengan pemerintah propinsi, pusat maupun kalangan swasta.
“Maka, tidak elok jika sekarang ini hingga dua bulan mendatang, para kandidat hanya nampang. Pajang gambar, umbar jargon-jargon, kandidat silahkan bicara. Boking media, kerahkan sumberdaya kalian agar bisa tampil meyakinkan, tetapi rakyat juga tahu mana yang pura-pura dan mana yang sejatinya pintar,” tutupnya.
Menurutnya, Pilbup Kulon Progo 2024 harus menjadi bagian penting untuk merubah tata pikir seluruh komponen masyarakat di wilayah ini, pola kepemimpinan dan managemen pemerintahan lima tahun ke depan dan selanjutnya.
Pilbup Kulon Progo 2024 bukan hanya menjadi penanda starting point dimulainya era baru tetapi juga dimulainya peradaban baru bertata pemerintahan. Semangat itu yang sekarang ini harus bergelora di tengah masyarakat Kulon Progo.



