Kawan lama saya di Miami University tiba-tiba mengirim chat pesan pendek setelah membaca artikel-artikel tentang Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Selo Adikarto (SAK).
Ia seorang pengamat yang licik, tiba-tiba memberi komentar pedas soal ekonomi Indonesia tetapi tiba-tiba hilang susah dihubungi. Karena memang licik.
Ia ahli ekonomi karena lulus sarjana ekonomi dari universitas terkenal di Yogyakarta.
Tiba – tiba sore ini melalui pesan pendeknya ia menulis begini : PT SAK itu cacat dari lahirnya. Siapa yang membuahi (mengawini) siapa yang mengandung, siapa pula yang melahirkan.
“ Asbabul wurudnya, itu lho,” katanya, menggunakan diksi (kosa kata) bahasa pesantren agar dibilang orang sholeh.
“Jadi kalau sekarang jadi jabang bayi. Wajar. Dia dibuahi oleh siapa nggak tahu, dikandung siapa nggak tahu, lalu tiba – tiba dilahirkan dalam kondisi cacat. Wajar,” lanjutnya.
Le gayeng ki nek ono lakon anak takon bopo atau dalam bahasa Indonesia saya terjemahkan menjadi, hebohnya itu nanti kalau ada anak tanya siapa ayahnya .
Waduhhh ! Kok seperti ini analisis ekonominya. Padahal sekarang ini PT SAK sudah disidik Kejaksaan Negeri Kulon Progo dengan menghadirkan 25 orang saksi.
Saksi bisa jadi tersangka. Bisa saja. Apalagi mereka orang yang terlibat dalam keluar masuknya investasi dari APBD ke dalam tubuh PT SAK.
Berapa kali APBD Kulon Progo menyuntik dana segar sebagai makanan cacing di dalam nadi-nadi PT SAK, tidak ada keterangan terbuka dari DPRD Kulon Progo.
Boro-boro DPRD Kulon Progo, Pemda Kulon Progo juga bungkam seolah seperti kasus ini tidak bakal menyerempet mereka. Bahaya ini.
“Maaf bapak, kalau untuk diskusi saya mau. Tetapi kalau untuk diberitakan saya tidak mau,” kata seorang pejabat di Pemda Kulon Progo terkait PT SAK.
Iki model opo ? Maka ketika teman lama saya ini mengirim pesan pendek saya bahagia.
Artinya ia masih memiliki respon yang baik terhadap perkembangan situasi sosial politik dan hukum di wilayah ini.
“Bukak kitab kuning, ndo. Sampean lebih tahu soal ini, saya menjadi saksi dimana orang menangis didepanmu, karena masalah ini,” katanya.
Kalau ini sungguh ndobol bulsit luar biasa. Ini hanya mau joyo endo, karena tidak mau rekoso mikir kondisi bangsa, tetapi ikut menikmati enaknya. Pasti kalau ini.
Sesudah agak lama ( beberapa menit ) hand phone diam tidak berisik. Tiba-tiba ia mengirim pesan akhir, dengan tetap menggunakan bahasa campuran Jawa – Indonesia dan Belanda.
“Atawa kalau ada judul Jabang Bayi SAK Takon Bopo. Tak pentelengi tekan esok,” katanya.
Saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia, atau kalau ada pertunjukkan wayang Jabang Bayi SAK Takon Bopo akan saya saksikan serius sampai pagi.
Maka saya menyimpulkan, bahwa kawan saya ini melihat bakal terjadi kekisruhan (pertunjukkan bagus) di ranah sosial politik dan hukum kita karena ada bayi SAK Mencari Ayahnya.
Penulis : Suyono Sugondo
Pimred Proliman News



