Kulon Progo, Proliman News – Kenapa Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata Kulon Progo hanya mentargetkan Rp 8 miliar di tahun 2024 ?
Padahal Kulon Progo memiliki 42 tempat tujuan wisata yang lebih lengkap dibanding kabupaten lain seperti Sleman dan Kota Yogyakarta.
Mestinya sektor pariwisata bisa diarap menjadi lokomotif utama untuk mendongkrak perekonomian Kulon Progo, dan menjadi pemasok PAD terbesar.
“Sektor wisata dalam analisa kami potensial menjadi prioritas utama untuk digarap guna mendongkrak perekonomian masyarakat dan PAD,” ujar Akhmad Basuki, Bakal Calon Bupati Kulon Progo 2024.
Dalam diskusi bertema Membangun Lompatan Ekonomi Kulon Progo, yang diselenggarakan Ecodef Institute Kulon Progo, beberapa waktu lalu ia mengaku telah melakukan kajian untuk menggenjot PAD sektor wisata.
“Konsep kami, sektor ini butuh dibenahi infrastruktur pendukungnya, jalur transportasinya, managemen pengelolaannya, hingga marketingnya,” tandas Akhmad Basuki
Dengan penanganan secara serius, sektor pariwisata diestimasikan mampu memasok PAD minimal dua kali lipat dari target PAD tahun 2024, atau sebesar hampir Rp 16 miliar di tahun pertama.
Dalam konsep pengembangan sektor wisata tersebut melibatkan peran aktif masyarakat bahkan masyarakatlah pelaku industri wisata senyatanya.
Sehingga diestimasikan sektor ini mampu mendorong ekonomi kawasan sekitar lokasi wisata hingga hingga 30 persen lebih.
“Jika selama ini, pelaku wisata dan masyarakat hanya terlibat di posisi sekunder atau sekedar menjadi pelengkap bagi industri pariwisata, dengan konsep New Dream Tourism (NDT) maka masyarakat menjadi pelaku utama industri pariwisata,” katanya.
Masyarakat lokal, sebagai pelaku industri pariwisata bergerak dengan suport pemerintah baik permodalan, teknik managemen, dan dukungan infrastrukturnya akan menjadi peraup keuntungan pertama dari dampak ekonomi pariwisata.
“Baru setelah itu, pemerintah daerah mendapatkan bagiannya melalui PAD. Bahkan masyarakat pendatang juga menikmati keuntungan membaiknya sektor wisata baik di segmen mremo (pedagang keliling), atau segmen jasa-jasa lainnya, yang tidak dimiliki warga lokal,” tambah Akhmad Basuki.
Seperti musisi, seniman, atau atraksi dengan sklil tertentu, yang harus didatangkan dari luar daerah menjadi pelaku wisata penting yang akan ikut menikmati peningkatan ekonomi wisata Kulon Progo.
Sementara investor di sektor perhotelan, restaurant, cafe, jasa transportasi sebisa mungkin merupakan bagian penting dalam industri wisata yang harus dipegang masyarakat lokal.
Sehingga menurutnya, membangun infrastruktur penunjang pariwisata di 42 titik destinasi di Kulon Progo menjadi prioritas utama. Karena dengan langkah itu berarti mendorong perekonomian masyarakat setempat.
Apalagi Kulon Progo memiliki tempat tujuan wisata yang lebih lengkap dibanding Sleman, atau Kota Yogyakarta.
Jika tujun wisata di Sleman mayoritas pegunungan dan dataran, kepurkalaan maka Kulon Progo memiliki pegunungan, dataran dan pantai.
“Sehingga mestinya Kulon Progo pendapatannya dari sektor wisata jauh lebih besar dibanding Sleman,” tandas Akhmad Basuki.
Ia mencontohkan, kunjungan wisatawan di Sleman sampai dengan Maret 2024 mencapai 1.203.401. Wisatawan domestik sebesar 98,23 persen atau setara dengan 1.143.526.
Jumlah kunjungan pada triwulan pertama setara dengan 16,04 persen dari target kunjungan yang ditetapkan pada 2024, sebesar 7.500.000 kunjungan.
Wisatawan yang berkunjung ke Sleman antara lain destinasi peninggalan sejarah budaya Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko. Kawasan lereng Gunung Merapi Kaliurang serta di Taman Tebing Breksi di kawasan perbukitan Prambanan.
Pada 2024, sektor pariwisata Sleman ditargetkan memasok PAD sebesar 27,96 persen atau setara dengan Rp302,731 miliar dari total pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Sleman sebesar Rp1,083 triliun.
Sementara Kulon Progo yang memiliki tempat tujuan wisata yang lebih lengkap, dari pegunungan, dataran hingga pantai hanya mampu mematok angka PAD sebesar Rp 8 miliar tahun 2024.



