Serasa lunglai tubuh ini membaca berita dari berbagai daerah di Tanah Air.
Ada saja ketimpangan antara rakyat dan penguasa, ke – cuekan aparat pemerintah, bahkan ndableg-nya para pemimpin di negeri ini.
Kasus tidak cairnya simpanan rakyat di Badan Usaha Kredit Pedesaan (BUKP) DIY menjadi pemula isi perut mau keluar.
Kentut bau sekali, lalu mual-mual dan nyaris muntah beneran.
Betapa tidak, kasus ini diketahui oleh aparat Pemda DIY dalam hal ini BPKAD DIY sebagai pengawas sekaligus Pembina BUKP. Uang penabung ( rakyat) puluhan miliar itu kok bisa hilang?
Lalu kasus ini juga diketahui kepolisian, kejaksaan, dan bahkan para penyelenggara negara juga tahu masalah ini. Lha kok mendel mawon ki piye ?
Lalu Gubernur DIY Sri Sultan sudah sangat tahu bahwa ada uang puluhan miliar tabungan/simpnan rakyat hilang raib entah kemana.
Tetapi apa ? Tidak ada action sama sekali dari para petinggi kita ini. Hanya ngomong yang masuk sistem IT bakal dibayar ?
Lho memangnya uang nasabah BUKP itu pada disimpan siapa dan dimana? Kok yang masuk sistem IT keciiil sekali, bahkan tidak ada 2 persen dari jumlah tabungannya rakyat.
(Ini saya ambil dari kasus nasabah korban BUKP Galur – Wates ).
BUKP itu tahunya masyarakat lembaga plat merah milik Pemda DIY, statusnya sebagai BUMD karena didrikan melalui Perda No.1 1989.
Kok bisa-bisanya BPKAD dan Pemda DIY cuek banget nyaris tidak ada upaya apa-apa kecuali ngeles dan marah setiap ada masyarakat yang meminta pencairan.
Aneh nggak ? Apalagi memang nasabah sulit mencairkan dana mereka di setiap BUKP yang saya sebut diatas.
“Telo tenan,” ujar seorang netizen menanggapi berita ini.
Bahkan ada yang menginfo hampir seluruh BUKP DIY bermasalah, nasabah susah mencairkan dananya, dan kredit fiktif atau tipu-tipu seperti yang ada di BUKP Galur.
“Tunggu saja, bakal terkuak, hampir semua BUKP di DIY bermasalah,” tulis seorang netizen.
Duh pengin ngamuk rasanya membaca laporan – laporan masyarakat itu. Pengin nampol bakpao atau bakwan…..
Setiap sore menjelang, perut saya rasanya mau muntah setelah membaca berbagai berita carut marut di negeri ini.
Angin dingin (sangat dingin) bahkan langsung menerjang ulu hati. Hingga serasa mau muntah, terasa mual-mual dan nyaris menjadi sesak nafas akibatnya.
Ini gara-gara membaca laporan, dari Kabupaten Klaten, adanya uang nasabah BKK Klaten sebesar Rp 51 miliar hilang.
Mereka kemudian mengadu ke DPR RI akibat dana macet Rp 52 miliar tersebut.
Beritanya, sekitar 6.000 nasabah BKK Klaten dengan dana macet senilai Rp 52 miliar mengadu ke DPR RI setelah upaya dialog di tingkat daerah menemui jalan buntu.
Nasabah dan IKA PMII Klaten menuntut DPR RI turun tangan untuk memanggil pihak terkait, mendorong intervensi pusat, dan meminta audit investigatif jika ada unsur pidana.
Lha kok PMII ? Iki apa lagi, kaitannya apa coba ?
Mereka juga menuntut transparansi kondisi keuangan PD BKK Klaten dan kepastian jadwal pengembalian dana nasabah.
Lalu ada berita kecil bahwa Jembatan Kabanaran di Kulon Progo – Bantul pada rusah patah tiang lampunya mengelupas pelapis ornament gunungannya, padahal jembatan ini menghabiskan Rp 864 miliar, dan menjadi kebanggan.
Makin kacauuu, dan buru-buru pengin menulis dengan gaya kasar najis, karena berita-berita banyak mafia di dalam lembaga plat merah.
“Kana da polisi, jaksa, ada pengawas, ada Gubernur ada Bupati, emang mereka bisa ada tanpa rakyat ya ? “ tulis netizen.
Penulis : Suyono Sugondo
Pimred Proliman News



