Jakarta, Proliman News – Nilai tukar rupiah (IDR) terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) selama beberapa waktu ini.Pada penutupan perdagangan hari Kamis, 4 Juni 2026 nilai tukar rupiah ditutup melemah 82 poin terhadap dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah 90 poin di level Rp 18.049 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.966.
Sebelumnya, rupiah dibuka melemah 37 poin (0,21%) ke level Rp 18.003 per dolar AS.Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Kamis (4/6) pukul 09.05 WIB melemah 37 poin atau 0,21 persen di Rp 18.003 per dolar AS.
Pemerintah sebenarnya sudah bergerak menjaga nilai tukar rupiah. Bank Indonesia (BI) mendorong masyarakat untuk membatasi pembelian valuta asing (valas) tanpa underlying hingga mendorong penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam transaksi bilateral.
Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan yang berasal dari dinamika pasar keuangan global dan domestik.
“Mulai 2 Juni 2026, Bank Indonesia telah memberlakukan ketentuan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi USD 25.000 per pelaku per bulan,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Ramdan menuturkan BI terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. Langkah tersebut juga dilakukan untuk menjaga kecukupan likuiditas valas dan mendukung stabilitas pasar keuangan.
Di sisi lain, BI juga terus memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi lintas negara melalui skema LCT untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS juga memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.
“Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab,” jelasnya.Lebih lanjut, Ramdan menilai stabilitas nilai tukar rupiah tidak dapat dijaga oleh bank sentral semata.
“Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” tutupnya.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa rupiah melemah imbas kehati-hatian pasar terkait sentimen meningkatnya ketegangan AS-Iran di Timur Tengah.
Ketegangan meningkat menyusul serangan rudal Iran terhadap Kuwait dan Bahrain serta serangan AS terhadap Pulau Qeshm Iran di dekat Selat Hormuz. Ketegangan juga semakin meningkat setelah Israel memperluas operasi militer di wilayah Lebanon selatan.
“Perhatian kini beralih ke data ekonomi AS, khususnya laporan penggajian non-pertanian yang dipantau ketat pada hari Jumat mendatang,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya yang diperoleh pada Kamis (4/6/2026).
Sebelumnya, data dari perusahaan pemroses penggajian ADP menunjukkan bahwa perusahaan swasta AS menambah 122.000 pekerjaan pada Mei 2026, melebihi ekspektasi ekonom dan meningkat dari kenaikan bulan sebelumnya.
Dari sisi internal, rupiah semakin melemah seiring kekhawatiran yang meningkat setelah harga minyak mentah yang tinggi memicu risiko defisit fiskal Indonesia mendekati 3%. Pelemahan rupiah juga terjadi beberapa waktu setelah lembaga pemeringkat Moody’s mengeluarkan outlook atas peringkat Danantara Investment Management di level negatif.
Liputan : Suyono Sugondo / Berbagai Sumber



