Ahmad Basuki: Aku Punya Cara Sendiri Ngembaliin Ongkos Njago Bupati, Emoh Duit Proyek Aku !

Ahmad Basuki, ST, semoga arwahnya diterima di sisi Allah, damai di sana dan diampuni dosa-dosanya !

Masih soal kawanku Ahmad Basuki, ST, warga negara Kulon Progo yang berniat maju Pilkada 2024.

Ia sudah mendaftar di Partai Golkar, PAN, PKB, PKS, PPP, dengan segala senyum yang mengembang.

“Slow saja !” katanya menanggapi banyaknya permainan yang diciptakan dan harus dilalui di semua partai tersebut.

Cara menanggapi banyaknya uang yang keluar untuk ini itu baik secara perorangan, gerombolan atau partai, ya biasa saja.

“Nggak usah dicatat, itu bagian dari sodakoh saya kepada teman-teman,” ujarnya sambil tetap makan sate.

Jeglerrrr !!!

Suatu hari ia almarhum Ahmad Basuki meminta saya untuk mengumpulkan nomore rekening teman-teman (katakan) tim pemikir.

Ia bilang begini:

“Kalian ini meninggalkan rumah dari pagi sampai pagi lagi, lalu rumah mbok tinggali opo? Kasih saya norekmu, saya akan tf tetapi itu untuk urus dapur kalian,” katanya sambil memainkan HP.

Sebentar kemudian, masing-masing rekening tim pemikir kemasukan uang cukup untuk tinggalan orang rumah.

“Setiap bulan saya akan tf sebesar itu. Itu untuk orang rumah ya, bukan untuk tuku udut. Bagian udut, madang, ngopi, tetap seperti biasa, JL alias njaluk langsung,” ujarnya dengan ngakak habis.

Suatu saat saya juga diminta kirim duit kepada seorang kawan di sebuah partai tertentu.

Ia bertanya begini:

“Kirim uang kopi ke dia berapa ya?” tanyanya.

“Ya kalau untuk ngopi ya satu setengah paling banter,” kataku.

BACA JUGA  Gelombang Aksi 27 Agustus Meluas ke Yogyakarta dan Makassar, Mahasiswa Suarakan Reformasi Hingga RUU Perampasan Aset

Ia segera bergegas, meminta salah satu tim pemikir untuk segera merapat ke rumah orang partai ini untuk mengirim in cash sebesar Rp 5 juta.

Waouuh. Hanya uang kopi segitu banyak. Sampai si orang partai ini merasa kikuk, malu, ewuh dan tidak enak hati. Karena terlalu banyak.

“Ben wae, gak papa, kita kan akan kerja lama,” ujar Basuki.

Tanpa diminta, tanpa ada yang usul tanpa dioyak-oyak, tanpa ada yang protes, Basuki beride sendiri lalu meng-eksekusi gagasannya, bersodakoh untuk teman-teman kerjanya.

Suatu sore yang indah di Taman Wisata Ono Kaline, Kalibawang, Kulon Progo ia meminta saya untuk tidak usah ngoyo.

Semua tetap dihitung tetapi dengan bersandarkan kepada ketentuan Allah. Bukan kepada orang per orang.

“Wong-wong iki, masing-masing menjadi pemain dalam sebuah fragmen yang sudah ditetapkan oleh Yang Kuasa. Aku ketemu kowe, ketemu Gombloh, Mas Mamad, Mas Ngibad iku karena takdir,” ujarnya.

Lalu ia beranjak dari duduknya, memesan minuman jahe panas, dan meminta tukang warung membelikan rokok malboro sebungkus.

“Rokokmu entek to? Ndak raiso mikir,” katanya tersenyum.

Sore ini luar biasa. Ia berbicara tentang kodrat, kodhoq kodar, tentang arus manusia dan ketentuan-Nya.

“Njago bupati ki entek (habis, red) berapa ? Jaremu? Sepuluh rong puluh miliar ?” tanyanya.

“Ya sebesar itu lah, nek Kulon Progo sakjane rendah, paling sepuluh,” kataku.

BACA JUGA  Mendorong Dapur MBG di Tiap Kalurahan Irisan Antara Ide Besar dan Risiko Hukum yang Tak Disadari

“Oke katakan 20 miliar. Darimana duit para jago kembali? Kekekekek, “ ujarnya sembari terkekeh.

“Aku ora arep njagakke APBD, ora butuh mroyek (proyek), emoh aku ora bakal njaluk disetori duit proyek, ora arep njaluk rekanan dan sebagainya. Haram hukumnya ! Aku duwe coro dewe, golek pepulih ongkos njago bupati,” paparnya.

Matanya menatap tajam, serius, sembari menyeruput wedang jahe.

“Aku gur butuh lenggah jajar karo Bupati Cilacap, aku yo Bupati kono yo Bupati. Aku arep njaluk izin space di Pelabuhan Cilacap, iso bongkar batu-bara atau minyak goreng,” katanya.

Ia ingin meminta sebulan bisa dua kali bongkar dua tongkang batu bara, atau minyak goreng. Dan dia ingin ada depo.

“Dengan begitu untungku Rp 700 juta setongkang, setiap kali bongkar. Kalau sebulan bisa bongkar dua kali, duaitku sek nggo ragat njago bupati iso bali dengan izin Allah,” katanya.

“Iku bisnisku, yo di situ saya bisa mencari duit, Bupati Cilacap tak kasih Rp 100 juta mau nggak setiap bongkar. Ini bagian usaha, ora sogokan, ” katanya sirih.

Saya merinding mendengarnya. Saya hampir menitikkan air mata, betapa rencana menjalani peperangan di Pilkada 2024 sudah dihitung sangat matang.

Swargo langgeng Pak Bas…..

Penulis : Suyono Sugondo

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *