Kekajaman di Birokrasi Kenapa Makin Menjadi-jadi Kenapa Tuhan Membiarkannya !

Memasuki usia 60 tahunan, mestinya saya tidak lagi banyak bicara hal-hal duniawi yang penuh kekejaman, kedholiman, kebiadaban, dan terstruktur.

Itu cita-cita ! Nyatanya tidak bisa begitu. Masalah kedholiman, kebiadaban dan kekejaman struktural itu justru semakin banyak hadir dan memuncak saat saya mundur dari hiruk pikuk investigasi jurnalistik.

Dulu saya pernah terlibat dalam beberapa investigasi untuk Metro Realitas, sebuah program di Metro TV yang keren menurut cara pandang saya sebagai orang muda.

Penuh gaya intelejen, tlusap-tlusup, dan harus memiliki modal kuat iman, kuat menyimpan rahasia, harus hati-hati dan sehat secara lahir maupun batin untuk mengemasnya.

Suatu saat saya turut serta investigasi beredarnya uang palsu, uang resmi tetapi palsu dan uang palsu tetapi resmi. Aneh kan?

Saat itu saya ikut turun ke lembah, naik gunung, memasang kamera tersembuni saat ketemu narasumber, dan sebagainya.

Lalu saya sedikit tahu, kenapa uang palsu bisa beredar dan kenapa pula ada uang palsu tetapi resmi atau uang resmi meski palsu.

Siapa orang-orang besar yang berada di balik ini semua, hingga siapa rakyat yang terlibat dalam permainan berbahaya ini dengan sejumlah isu ikutannya, saya sedikit paham.

Uang ini dicetak dimana, kelompok siapa, hingga masuk ke pasaran melalui jaringan siapa, menjadikan saya bertambah dewasa melihat problem dunia.

Dan masih banyak lagi kasus di muka bumi ini yang mencerminkan kebiadaban, kedholiman dan melawan hukum demi uang.

BACA JUGA  Saudara Wabup Ambar Purwoko, Investor Tidak Masuk Kulon Progo Bukan Karena Tidak Ada RT-RW/RD-TR !

Sekarang saya kaget luar biasa, ketika mendengar, melihat dan ikut ‘terlibat’ dalam prostitusi birokrasi dengan kejumawaan para bandar dibelakangnya serta melihat pandainya semua aktor menyembunyikan niat jahat dalam setiap operasinya.

“Dan itu terjadi di semua sektor di semua lini birokrasi,” jelas kawan saya seorang aparat hukum di negeri ini.

“Kenapa tidak you ambil, proses dan penjarakan?” tanya saya.

“Saya punya atasan, atasan punya atasan, dan atasannya punya atasan, masing-masing tidak satu kata soal republik ini, dan masing-masing punya jaringan bermain,” katanya.

Woouw begitu ya ? Pantesan dari kekuasaan terendah hingga tertinggi riuh seperti pentas dangdut, pentas ketoprak dan bakul jamu main bareng di Pasar Malam Sekaten Yogyakarta !

Maka di usia saya yang kini sudah kepala enam, menjadi sangat risau, akan terjadinya praktek-praktek gelap birokrasi dan bisnis sekaligus di semua lini.

Yang penting ada untung ! Soal negeri ini mau bagaimana, ya entahlah. Mau runtuh ya sudahlah, mau hancur yang monggo saja !

Maka ketika suatu malam saya ditelpon seorang Kepala Dinas meminta klarifikasi beredarnya screenshot pesan singkat yang membahas adanya pejabat top di wilayah ini meminta untuk mengelola banyak pekerjaan proyek yang ada di semua dinas, ia hanya bisa mengatakan: “Saya pusing !”

“Kenapa pusing?” tanya saya.

“Pekerjaan (proyek) sedikit, yang minta banyak. Lebih baik saya serahkan kepada atasan saya,” katanya.

BACA JUGA  Khawatir Tersandung Hukum, Para Lurah di Gunungkidul Enggan Tanda Tangan BAST Aset Kopdes Merah Putih

“Lho anda kan Kepala Dinas, orang pilihan dipercaya bisa membantu bos Anda untuk menyelesaikan masalah-masalah seperti ini, kenapa harus dikembalikan ke atasan? Berarti Anda tidak dipilih karena pinter dan mampu donk,” tanya saya.

“Karena lebih baik begitu ? saya bisa bebas tidak terkurung dalam pertikaian,” katanya lagi.

“Waduh, kacau sampean ini. Kalau ada 23 Kepala Dinas semua bersikap seperti Anda wah nggak perlu ada kepala dinas, tidak perlu ada dinas-dinas. Ini sampean serahkan atau diminta ‘paksa’ oleh atasan Anda itu ?” tanya saya lagi.

“Ya, gemana ya! Saya serahkan,” katanya terbata-bata.

“Ah yang bener. Diminta ya ? lalu sampean serahkan. Ini aneh, masak begitu caranya ! Ini datanya yang tidak bisa diambil oleh rekanan umum puluhan pekerjaan lho, berarti kepala dinas yang lain juga mengalami tekanan yang sama ya ? Bisa kena OTT yang seperti ini. Tunggu saja,” kata saya sembrono.

“Pak mohon tidak diberitakan ya ? Mohon nama saya aman ya ? “ tandasnya.

Wouuhhh, saya benar-benar heran dengan praktik ini. Praktik tidak lazim, melawan hukum dan menurut KPK ini metode korupsi lebih maju. Pantas banyak nama-nama perusahaan baru di wilayah ini sebagai pelaksana pekerjaan. Jebule ada yang beginian ya !

Sebagai warga Kabupaten Kulon Progo, hanya bisa ikut pusing, semoga yang seperti ini tidak terjadi terjadi di sini ini.

BACA JUGA  Geliat Aksi Demo 27 Agustus di Jakarta: Arus Kedatangan Massa Daerah, Dukungan Logistik Warga, hingga Skema Pengamanan Polisi

Penulis : Suyono Sugondo

Pemimpin Redaksi Proliman News

Deskripsi Banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *